Review Wanara Vol 1 by KyotoReview

Wanara ditulis dan digambar oleh Sweta Kartika. Sejak Mei 2011, Sweta Kartika menerbitkan komik yang ia buat tiap bulan melalui internet: Makko (http://makko.co). Setiap bagian cerita terdiri atas lebih sedikit dari 30 halaman.


Makko adalah penerbit yang menerima naskah untuk publikasi dari semua gaya:
“Kami tidak mendukung penulisan ke dalam satu gaya komik tertentu. Komik tidak harus digambar dengan menggunakan gaya yang spesifik seperti manga, US, Eropa, manhwa, manhua, dan lain-lain. Kami memiliki standar spesifik kami sendiri untuk menyeleksi komik yang akan kami gunakan.” (Makko.Co. Perusahaan Penerbitan Komik)
Panduan penulisan naskah tersebut mengakui gaya komik yang berbeda di Indonesia dan tidak pernah memberi label terhadap komik yang mereka terbitkan dengan suatu gaya spesifik tertentu. Oleh karena itu, seseorang dapat mulai membaca Wanara tanpa mengasumsikan suatu gaya asing dilabelkan pada karya mereka.

Wanara menampilkan sejumlah petualangan dari seorang siswa Sekolah Menengah Atas yang bernama Seta. Seta adalah seorang yang mempraktekkan ilmu bela diri dan penggemar pahlawan super, yang mencoba menyelamatkan seorang veteran pahlawan super. 

Pahlawan super yang sudah lanjut usia ini, Panca, diculik oleh sebuah organisasi yang disebut dengan P.CO, yang dipimpin oleh Panda. Brata, seorang pengikut dari Panca, juga sedang di dalam perjalanan untuk menyelamatkan Panca. Seta dan Brata bertemu dengan pahlawan muda yang lain dengan tujuan yang sama dan membentuk perkumpulan pahlawan super yang baru, “Wanara”. “Wanara” melanjutkan tugas dari generasi pahlawan sebelumnya untuk mengalahkan kejahatan.




FIGURE 2: The main characters of WanaraGambar 2: Tokoh-tokoh utama di dalam Wanara

Kisah petualangan Wanara punya latar belakang di wilayah perkotaan Indonesia pada masa modern. Sebagai seorang siswa SMA, Seta mengenakan seragam yang ditetapkan oleh pemerintah atau pakaian normal lainnya yang dikenakan oleh remaja umumnya. Latar belakang Wanara didasarkan pada realitas Indonesia dengan sentuhan fiksi-sains melalui keberadaan hewan yang menyerupai manusia, karakter yang berbentuk tidak seperti manusia, teknologi bernuansa masa depan, dan aksi supernatural. Latar belakang ini dikontraskan dengan penggambaran elemen tradisional Jawa dan Sanskrit. Contohnya adalah penggunaan keluarga kerajaan Jawa kontemporer di dalam alur cerita, dan ilustrasi tentang kuil dan motif Jawa kuno. Mereka juga menggunakan keraton Yogyakarta.

Baca juga : Review Komik Tawur Vol 1




FIGURE 3a: The landscape of WanaraGambar 3a: Latar Belakang Wanara




FIGURE 3b: The landscape of real life Indonesian CultureGambar 3b: Latar belakang dari budaya Indonesia pada kehidupan nyata





FIGURE 4a: The decoration of WanaraGambar 4a: Dekorasi di dalam WanaraFIGURE4b: The decoration of Javanese CultureGambar 4b: Dekorasi dari kebudayaan Jawa





Saya menikmati cerita Wanara yang menarik yang dikemas dengan aksi yang menggetarkan hati. Adegan-adegan aksi digambarkan dengan jelas melalui satu seri panel yang berkesambungan.FIGURE.5: The action in Wanara Chapter 5: L→R p. 14 – 17 (left to right, top to bottom)Gambar.5: Aksi di dalam Wanara Bab 5: Kiri→Kanan halaman 14 – 17 (kiri ke kanan, atas ke bawah)

Keempat halaman ini tidak hanya terdiri dari panel-panel yang menceritakan dengan mendetail satu aksi setelah yang lain, tetapi juga menunjukkan kembali kecepatan dari aksi yang terjadi. Garis-garis vertikal menggambarkan kecepatan jatuh sementara garis-garis diagonal di belakang Mr. Q. menggambarkan monster yang tengah bergerak dengan kecepatan manusia super. Membaca melalui gambar ini, saya berpikir bahwa Wanaradigambar dengan gaya Jepang. 

Terlepas dari gambaran yang realistis dari lingkungan sekolah di Indonesia dan pengingat konstan tentang kebudayaan Jawa (sampul dari setiap edisi Wanara menggambarkan sebuah maskot dengan dekorasi tradisional Jawa), gaya panel dan pergerakan di dalam komik membuat saya dengan cepat mengasosiasikan Wanara dengan gaya Jepang.

Baca juga : Review Komik Tawur Vol 2

Meskipun Wanara tidak diberi label sebagai komik gaya Jepang oleh penerbit komik tersebut, rasa kedekatan dengan gaya Jepang tidak membuat saya terkejut. Saya menyadari bahwa Wanara memiliki elemen-elemen visual yang umum pada komik Jepang seperti komposisi panel-panel yang tidak seragam menunjukkan aksi-aksi mendetail yang umum ditemui pada komik shonen Jepang. Bentuk balon-balon percakapan, penggunaan onomatopoeia, gambar-gambar hitam dan putih dengan screentones dan dua tubuh yang berbeda dari karakter yang sama (perubahan bentuk tubuh dari karakter yang muncul pada situasi-situasi bernuansa komedi).




FIGURE. 6: Deformed bodies: Chapter 10 p.10Gambar. 6: Perubahan bentuk tubuh karakter: Bab 10 halaman 10

Terlepas dari konsistensi atas stereotipe visual dengan gaya Jepang, terselip beberapa halaman berwarna yang menitikberatkan pada adegan-adegan aksi;




FIGURE. 7: Examples from Special Chapter and colored page within other chapterGambar. 7: Contoh-contoh dari Bab Spesial dan Halaman Berwarna di dalam Bab-Bab Lainnya

Gambar-gambar pada kesempatan-kesempatan ini lebih realistis dengan panel-panel simetris dan sudut-sudut dramatis. Dalam hal ini, konsep tentang Wanara sebagai komik bergaya Jepang beralih menjadi komik gaya pahlawan super Amerika.

Perhatian saya untuk mengasosiasikan komik Indonesia dengan suatu gaya tertentu merefleksikan bagaimana klasifikasi ini telah berakar kuat di dalam pikiran saya. Perubahan gaya di dalam Wanara membuktikan keahlian menggambar sang seniman, Sweta Kartika, yang memungkinkan dirinya untuk menguasai gaya yang berbeda-beda. Hal ini juga merupakan pengingat yang mengganggu tentang betapa cepatnya untuk mengasosiasikan gambar tertentu dengan gaya geopolitik yang lebih umum ditemukan di dalam komik Indonesia.

Wanara memiliki penggambaran yang berbeda terhadap dua generasi pahlawan super: generasi yang lebih tua dan generasi yang lebih muda. Impor genre Eropa dan Jepang pada tahun 1980-an memperkenalkan konsep tentang tokoh dengan tipe badan tidak berotot yang ambil bagian di dalam adegan aksi (keseharian, Ahmad et. al, 2005: 18, 58). Generasi yang lebih tua digambar dengan gaya Amerika, sementara generasi yang lebih muda digambar dengan menggunakan frame-frame yang lebih kecil, minim kostum, dan hanya mengenakan pakaian biasa di dalam pertarungan. Kehadiran dua generasi mewakili budaya komik yang berbeda yang utama di dua generasi yang berbeda.

FIGURE 8: The bodies of the old generationGambar. 8. Bentuk Tubuh dari Generasi Tua
Melalui bacaan-bacaan ini, Wanara memiliki potensi untuk memufakatkan estetika komik yang berbeda yang ada di komik Indonesia.

Post a Comment

0 Comments