[Blog] ComicSense#02: Catatan Sebelum Mendesain Karakter by Sweta Kartika


Salah satu komponen utama di dalam komik yang tidak kalah penting dari cerita dan gambar adalah penokohan. Banyak yang menukar istilah penokohan dengan desain karakter. Setiapkali membahas ihwal penokohan, banyak yang pikirannya berakhir di desain visual karakter. Memang secara desain, visual karakter penting untuk dibuat se"unik" mungkin. Tapi yang jauh lebih mengikat emosi pembaca terletak pada struktur penokohan sesosok tokoh komik. Apa itu penokohan?

Setidaknya dapat dijelaskan bahwa penokohan adalah "respon watak terhadap konflik".

Ketika membuat cerita, kita harus mulai sibuk mengulik struktur penokohan setiap tokoh yang kita punya. Sebaiknya jangan dimulai dengan menggambarkannya terlebih dulu. Kenapa? Karena sosok visual seorang tokoh akan menyesuaikan denga perwatakan yang dia punya. Jadi, hal yang pertama kita kerjakan adalah memaparkan secara detil watak-watak pada tokoh yang kita buat. Catatan penting, dengan kita menyusun struktur penokohan seperti ini, kita jadi bisa memberikan posisi dan beban penceritaan secara merata. 

Banyak komikus pemula yang mengabaikan hal ini, sehingga ketika komiknya dibuat, ada ketidakseimbangan kemunculan dan porsi peranan tokoh. Misalnya, ada tokoh yang terlalu pintar dan terlalu banyak tahu, sementara ada tokoh yang desain visualnya cukup bagus cuma nongkrong di pojokan. Atau, ada tokoh yang diekspos lebay sementara dia berada di dalam kelompok, sehingga yang lain tidak kebagian peran. Tiap kali ada kejadian, si tokoh ini melulu yang ngomong, seolah-olah ini Lele tahu semua hal. Atau yang cukup klise adalah; nyaris semua tokoh wataknya sama. Sehingga ketika ada satu konflik menimpa beberapa tokoh secara bersamaan, maka responnya sama semua. Yang marah ya marah semua, yang galau ya galau semua.

Struktur penokohan dibuat bahkan sebelum cerita yang anda punya selesai dituliskan secara detil. Kapankah sebaiknya kita merumuskan penokohan? Penyusunan penokohan sebaiknya dibuat ketika anda sudah menyelesaikan membuat sinopsis cerita. Dengan anda mengetahui timeline cerita, maka anda akan tahu berapa jenis watak yang anda perlukan. Coba dibuat daftar tokoh-tokoh yang sudah anda buat, lalu paparkan perwatakan di dalamnya. Misalnya:

1. Grey :
-tidak mudah dipengaruhi, penuh pertimbangan.
-selalu sopan, bicara seadanya.

2. Jingga:
-mudah terpengaruh situasi, sulit mengungkapkan kemauan hati.
-bicara selalu bertolak belakang dengan isi hati, ketus, malu tapi mau.

Di atas hanyalah contoh sederhananya. Kita sebaiknya bisa menyusun daftar tokoh berikut perwatakannya sehingga akan memudahkan kita untuk memasangkan satu tokoh dengan yang lainnya, baik untuk diadu sifatnya, atau untuk saling melengkapi posisinya. Dengan cara seperti ini, kita bisa menghindari pemakaian satu tokoh yang terkadang tidak proporsional. Patuhilah struktur penokohan yang sudah anda buat itu ketika ngomik. Jangan sampai kita mencla-mencle, tiba-tiba tokohnya mendadak melankolis tanpa sebab yang jelas padahal sebelumnya dia dungu atau sadis.

Satu hal lagi yang mengikat emosi pembaca adalah seberapa unik perwatakan tokoh yang kita buat. Misalnya, kenapa Luffy dan Naruto banyak digemari anak-anak? Bahkan orang dewasa yang menggemari kedua tokoh ini pun perlahan sifatnya mengikuti jadi kekanak-kanakan juga. Baik Luffy maupun Naruto sama-sama memiliki sifat unik yang dipadukan dengan kemampuan/ability mereka yang cenderung bertolak belakang dengan watak utama. Struktur penokohan ini banyak dipakai juga di beberapa cerita lain, salah satunya Dragon Ball yang memperkenalkan Son Go Ku nya yang cenderung lugu dan kekanakan, tapi kesaktiannya tak tertandingi. 

Pelajari struktur ini. Struktur "Watak cupu dengan kesaktian tinggi" ini mampu mengikat hati pembaca yang didominasi oleh orang-orang yang menginginkan bisa keren seperti tokoh pujaannya di dalam komik. Cara lain untuk mengikat emosi pembaca adalah dengan menyusun karakter watak yang disesuaikan dengan sasaran pembaca kita. 

Misalnya, dalam membuat komik bertema percintaan, cobalah riset orang-orang di sekeliling kita. Pahami watak mereka dan lihat bagaimana respon watak mereka ketika mengalami konflik batin. Dengan cara seperti itu, pembaca secara tidak langsung akan merasa berada di dalam cerita komik buatan anda. Jangan sampai kita asal membuat pengkarakteran hanya berbekal imajinasi mentah belaka. 

Banyak komikus pemula yang merasa tokoh buatannya itu keren secara visual, tapi ketika diaplikasikan ke dalam komik, pembaca belum tentu suka. Mungkin karena presentasi sosok yang “keren” hanya sebatas di angan si komikus saja, tapi pembaca tidak bisa melihat keunikannya. Mulai sekarang, rajin-rajinlah berdialog dengan calon pembaca kita.

Kesuksesan sebuah karya dinilai dari seberapa dekat jarak antara karya dengan pengapresiasinya. Jika pembaca komik kita sudah merasa berada di dalam komik yang kita buat, bahkan mengangankan menjadi salah satu tokoh buatan kita, maka itulah tanda bahwa komik kita diterima di hati pembaca.

Post a Comment

0 Comments