Blog
[Blog] ComicSense#03 : Mengakomodasi Pembaca

Ketika komik sudah selesai dibuat, tugas seorang komikus adalah mempublish karyanya di media publik. Saya pribadi lebih memilih media internet untuk mengunggah komik, karena kita sebagai komikus dapat secara langsung berinteraksi dengan pembaca dan menerima kritik saran seketika kita mengunggah komik kita.
Saat ini banyak media yang bisa kita pakai seoerti ngomik.com, komikoo, facebook, instagram, atau kita bisa membuat portal sendiri. Permasalahannya, banyak komikus pemula yang berkarya berdasarkan kepuasan pribadi. Komiknya dibuat bukan berbasis pada pembaca, sehingga banyak komik yang akhirnya tidak dipahami pembaca karena seolah isinya asyik sendiri.
Ketika komik sudah diunggah, tugas komikus adalah memantau pembacanya. Ingat, kita membuat komik untuk dibaca orang lain kan? Kecuali mau dibaca sendiri, yah well, saya tidak bisa berkomentar. Pembaca adalah ladang informasi bagi komikus. Mereka yang akan memberikan respon, komentar, dan kritikan, sehingga kita bisa mengukur kualitas komik kita. Kita pun bisa melakukan perbaikan di jilid-jilid berikutnya berdasarkan komentar pembaca tadi.
Nah, apa rumus rahasia dalam mengakomodasi pembaca? Saya punya jurusnya.
1. Terbukalah terhadap kritik dan saran
Ingat, tidak ada karya yang sempurna. Jangan mudah patah semangat jika ada yang mengkritik komik kita, dan jangan kebanyakan "ngeles" kalau ada yang memberikan opini dan masukan. Kita tampung dulu kritik dan sarannya.
2. Jadilah komikus "gaul"
Maksud gaul disini adalah bersikap interaktif terhadap pembaca, baik dalam komentar di portal komik kita maupun di kehidupan nyata. Ajaklah mereka ngobrol lewat komen, tanggapi sesekali, dan berramahtamahlah. Pembaca akan merasa menjadi bagian dari proses pengkaryaan kita seandaiknya mereka dapat merasa dekat dengan komikusnya.
3. Disiplinlah meng-update komik kita
Penting sekali bagi kita untuk membuat pembaca merasa penasaran tentang kelanjutan komik kita. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Mereka menunggu kelanjutan komik kita artinya komik kita bagus. Manfaatkan perasaan menanti itu dengan mengunggah komik kita rutin dengan interval pengunggahan yang mudah diketahui. Seminggu sehalaman pun tak jadi soal, yang penting rutin.
4. Bentuk tim
Kalau kita merasa kurang jago ngobrol dan betinteraksi dengan pembaca, bentuklah tim yang isinya jangan pengkarya semua. Ada orang yang bergerak di bidang marketing dan public relation yang tugasnya mempopulerkan komik kita dan mengajak bicara para pembaca. Cukup cari teman yang gaul aja kok, tidak harus orang yang profesional. Yang penting, dia paham betul seperti apa karya kita.
5. Jadilah artis
Maksudnya bukan jadi artis seperti pemain sinetron. Komikus juga harus punya personal branding. Buatlah pencitraan atas diri anda, dan yang dimaksud pencitraan disini jangan diasosiasikan hal negatif. Artinya, selain karya anda dikenali, anda sendiri sebagai komikus harus dikenal baik dari bentuk fisiknya maupun sosoknya. Misalnya, Is Yuniarto yang dikenal dengan kalemnya, Faza dengan topi komikusnya, Mbak Lala dengan kecantikannya, Irzaqi dengan nyentriknya, atau Esa Pavly dan Suryo dengan jambang dewa-nya, hehe.
Mungkin itu tips dan trik yang bisa saya beri. Intinya, jaga attitude anda dengan baik, dan berbagilah ilmu kepada sesama. Itulah cara agar pembaca komik kita terakomodas
Post a Comment
0 Comments