Blog
[Blog] Superhero Perempuan dalam Komik
Superhero perempuan? Siapa yang bakal pertama kali kalian ingat? Tentu saja Wonder Woman termasuk dalam salah satu list teratas,mengingat filmnya baru saja muncul di layar bioskop. Bulan ini, publik dunia masih mengingat dengan jelas bagaimana Gal Gadot, pemeran Wonder Woman, dengan begitu elegan berhasil menampilkan figur perempuan perkasa dalam diri Wonder Woman
Tidak seperti film-film DC Extended Universe sebelumnya, film Wonder Woman berhasil mendulang sukses besar, baik dari jumlah penonton maupun review kritikus. Publik dunia dari berbagai jenjang usia begitu menyukai film jagoan perempuan ini.
Tokoh Wonder Woman pada awalnya diciptakan oleh Moulton Marston di musim gugur tahun 1941. Ketika itu Perang Dunia II sedang berkecamuk di dataran Eropa. Wonder Woman menceritakan sosok Diana, seorang puteri pejuang dari Amazon, yang kemudian membela Amerika untuk menumpas iblis jahat yang mengganggu ketentraman dunia: Nazi!
Marston sang kreator adalah psikolog dari New York. Tahun 1940 menjadi awal karir Marston di dunia komik, ketika penerbit dari komik Superman mempekerjakannya sebagai penasihat. Di tahun-tahun tersebut, oleh banyak orang dewasa, komik dianggap bisa memberikan dampak buruk terhadap anak-anak. Marston justru berpikir sebaliknya. Menurutnya, komik bisa memberikan pengaruh positif terhadap anak-anak. Tidak sekedar memberikan nasihat, segera dia juga menciptakan karakternya sendiri, yakni Wonder Woman.
Marston telah menjadi pendukung hak-hak perempuan sejak dia kuliah. “Harapan satu-satunya untuk masyarakat adalah kebebasan yang lebih besar, pembangunan, dan kesetaraan terhadap perempuan di segala lini kehidupan manusia,” tulisnya di tahun 1942. Ketika itu dia menuliskan dirinya sebagai pengarang Wonder Woman.
Wonder Woman ciptaan Marston adalah seorang superhero yang setara dengan superhero lelaki lain. Dia memiliki kekuatan super, mampu bergerak cepat, pintar, dan mampu terbang. Marston berkata bahwa tujuannya menciptakan Wonder Woman adalah untuk membentuk sebuah figur perempuan yang kuat, bebas, berani, dan percaya diri. Marton juga memiliki keinginan untuk melawan ide bahwa perempuan lebih rendah daripada laki-laki.
Tahun 1947 Marston meninggal dunia. Pasca kematian Marston, sayangnya, penulis dan editor yang baru tidak meneruskan simbol Wonder Woman sebagai perempuan yang kuat, bebas, dan berani. Wonder Woman pasca Marston hanyalah seorang superhero paruh waktu, dengan identitas kebanyakan sebagai Diana Prince.
Lebih ironis lagi, di tahun-tahun kemudian superhero perempuan lebih banyak tampil sebagai pemanis. Balutan kostum ketat dengan pose sensual menghiasi karakter-karakter superhero perempuan Amerika. Problem ini telah menjadi wacana menahun. Perempuan seringkali tidak ditampilkan sebagai superhero utama, seringkali bahkan menjadi bahan objektifikasi seksual. Sayang memang, semangat kesetaraan yang diciptakan Marston harus tenggelam begitu saja.
Nah, bagaimana dengan Indonesia sendiri? Indonesia juga memiliki banyak stok superhero perempuan. Dahulu, terdapat karakter Siti Gahara ciptaan Bapak Komik Indonesia, R.A. Kosasih. Komik Siti Gahara menceritakan tokoh Siti Gahara yang harus memberantas jin jahat yang telah menaklukkan kerajaan ayahnya. Sayangnya, semangat Kosasih menciptakan figur wanita mandiri dipandang sebelah mata oleh banyak pihak. Oleh kritikus, Siti Gahara dianggap memuat unsur-unsur klenik dan takhayul.
Hal tersebut membuat Penerbit Melodie terpaksa menurunkan cerita Siti Gahara. Dalam tulisan perpisahannya, Kosasih menuliskan bahwa Siti Gahara adalah gadis ajaib yang tidak pernah gentar menghadapi tiap rintangan yang mengerikan dan pantang mundur untuk menolong sesama manusia yang mengalami malapetaka. Kosasih berusaha meyakinkan pembaca bahwa superhero wanita ciptaannya memiliki semangat positif terhadap kemanusiaan, tidak seperti yang banyak kritikus tuduhkan.

Untunglah, masyarakat dunia semakin ke sini semakin terbuka akan gerakan kesetaraan. Pasca maraknya gerakan feminisme sepanjang abad ke-21, wacana untuk membentuk kembali figur wanita mandiri muncul dalam berbagai media. Komik termasuk salah satunya. Di era kosmopolit ini, memunculkan figur wanita mandiri menjadi penting di saat banyak manusia yang masih saja mendiskreditkan peran perempuan.
Banyak superhero perempuan di Indonesia yang memiliki semangat kesetaraan ini, salah satunya tentunya tokoh-tokoh I.D.O.L. dalam komik HeartxBreak. Komik yang muncul di laman kosmik.id ini menceritakan gadis-gadis berkekuatan super, yang sebenarnya adalah representasi dari member idol group JKT48, dalam mewujudkan harapan dan cita-cita mereka bersama.
JKT48 memang terkenal akan lagu-lagunya yang menggugah semangat dan mengajak ke perubahan, dan semangat ini dimunculkan kembali melalui medium komik. Para mutan HeartxBreak diceritakan bahkan rela untuk melindungi manusia biasa yang sebelumnya banyak mencerca mereka.

Begitulah superhero perempuan. Lahir dengan energi positif, namun tumbuh dengan cara yang menyimpang. Dengan semakin terbukanya wacana dan informasi saat ini, memunculkan superhero perempuan perlu dibarengi semangat yang sesuai untuk kaumnya. Jangan sampai kesalahan menahun terus muncul; superhero perempuan adalah sosok seksi pendamping superhero lelaki. Sudah saatnya perempuan beraksi dengan caranya sendiri!

Post a Comment
0 Comments