Community
[Community] Panyoet : Komunitas Komik Aceh
Indonesia Kreatif kali ini berkesempatan bertemu dengan seorang pendiri komunitas komik di provinsi paling barat Indonesia: Aceh. Perempuan ini bernama Cut Putri Ayasofia atau akrab disapa Cpas. Bersama teman-temannya, Cpas menggagas berdirinya Panyoet, Komunitas Komik Aceh. Bagaimana kisah mereka? Dan bagaimana pula perkembangan komik di provinsi berjuluk “Serambi Mekkah” ini?
Ide mendirikan komunitas komik pertama kali muncul saat Cpas mengikuti sebuah event melukis di Banda Aceh pada Juli 2011. Ketika itu, ia bertemu dengan dua orang peserta lain, yaitu Rasnadi Nasry dan Marzalina. “Kami mengobrol panjang lebar tentang komik. Salah satu masalah yang kami bicarakan adalah tentang belum adanya komunitas komik, sedangkan potensi komikus di Aceh cukup besar. Dari sanalah ide mendirikan komunitas komik muncul,” kata Cpas.
Pertemuan mingguan pun disepakati. Pada
minggu pertama, selain mereka bertiga, ada dua orang lagi yang hadir.
Cpas dan teman-teman saat itu hanya menggambar, serta berdiskusi tentang
teknik-tekniknya. “Ketika itu, kami sama sekali belum memikirkan
tentang nama komunitas komik ini,” ujar Cpas. Walau demikian, saat itu
mereka sudah memiliki Ketua Umum yaitu Rasnadi Nasry.
Tiga bulan berlalu dan peserta pertemuan
pun semakin ramai. Selain mahasiswa, ada pula peserta yang masih
berstatus pelajar. Tak ingin menunggu terlalu lama, mereka pun
ditugaskan untuk membawa satu usulan nama. Dan dari sekian banyak nama,
pada 9 Oktober 2011, “Panyoet” resmi menjadi nama komunitas.
Panyoet adalah bahasa Aceh yang
berarti “teplok”, lampu bersumbu yang menggunakan bahan bakar minyak.
Alasan dipilihnya kata “Panyoet” yang pertama untuk menunjukkan
identitas bahwa komunitas ini berasal dari provinsi Aceh. Selain itu
menurut Cpas, Panyoet mengandung filosofi “sederhana tapi menerangi”.
Rasanya hal ini memang tepat, mengingat Panyoet sekarang merupakan
satu-satunya komunitas komik di Aceh. Tak heran, mereka memang menjadi
‘penerang’ sekaligus ‘penghangat’ bagi para pencinta komik di sana.
Kegiatan
Dalam pergerakannya, walau Panyoet
adalah komunitas komik, namun mereka juga tidak membatasi apabila ada
anggotanya (atau disebut Panyoetista) yang merambah bidang lain seperti
karikatur dan melukis. “Semua orang yang menyukai gambar boleh bergabung
di Panyoet,” kata Cpas.
Ia melanjutkan, sejak didirikan, Panyoet
sudah mengikuti beberapa pameran yang diselenggarakan di Banda Aceh.
Selain itu, Panyoet yang saat ini bernaung di bawah JAROE (Jaringan
Aneuk Rupa Nanggroe) – sebuah komunitas seniman seni rupa di Aceh – juga
rutin mengadakan diskusi dan hunting menggambar dengan para kartunis senior Aceh, seperti Tauris Mustafa dan Olexs. “Bahkan kita juga pernah mengadakan workshop bersama Beng Rahadian,” tambah Cpas.
Semua kegiatan tersebut tentunya
melahirkan hasil. Salah satunya adalah ketika para Panyoetista ikut
berkolaborasi dengan para seniman di Komunitas JAROE dalam menggarap
majalah “Komik Ka-Cang”. Bahkan salah satu Panyoetista, yaitu Hasbiallah
Yusuf, telah menerbitkan karya kompilasi dengan para komikus nasional.
Judulnya adalah “Ngomik Attack!!!” yang diterbitkan oleh Bukune.
Project terbaru Panyoet saat ini adalah jam strip,
yaitu menggambar komik strip secara estafet antar Panyoetista.
“Sekarang sudah jadi sekitar dua puluh halaman. Rencana awalnya masih
kita publish secara gratis di Facebook,” kata Cpas.
Kendala dan Harapan
Menjalankan komunitas tentu bukan tanpa
kendala. Cpas yang juga hobi memelihara hamster ini menyebutkan, salah
satu tantangan utama Panyoet adalah kurangnya konsistensi sebagian
anggota dalam mengikuti kegiatan. “Hal ini biasanya terjadi pada anggota
baru. Mungkin karena mereka masih disibukkan dengan kegiatan di sekolah
atau kampus,” jelas Cpas.
Tantangan lain adalah mengenai basecamp
atau tempat berkumpul. Sampai saat ini Panyoet belum memiliki
sekretariat. Mereka melaksanakan kegiatan di kafe, kedai kopi, atau
taman-taman kota. Pernah mereka mengajukan proposal ke beberapa pihak,
namun sampai saat ini belum ada respon yang positif.
Oleh karena itu, Cpas yang saat ini
bekerja di sebuah media sebagai ilustrator, mengharapkan perhatian
berbagai pihak demi kemajuan dunia perkomikan di Indonesia, khususnya
Aceh. “Salah satu kendala di Aceh adalah kurangnya perhatian terhadap
kesenian yang bukan berasal dari daerah. Saya dan Dovie, Ketua Umum
Panyoet saat ini, berencana segera menemui pihak pemerintah dalam waktu
dekat. Semoga respon mereka positif.”
Cpas juga menyatakan bahwa Panyoet
berwacana untuk membuat komik yang sifatnya komersil dan menawarkannya
ke penerbit. Khusus untuk para generasi muda Indonesia terutama yang
berkecimpung dalam bidang komik, Cpas berpesan agar jangan pernah takut
untuk berkarya dan jangan pernah bosan untuk belajar tentang komik.
“Kami juga akan senang sekali apabila ada teman-teman yang ingin
bergabung atau bersilaturrahmi dengan Panyoet. Cukup kunjungi kami di
Facebook atau Twitter,” ujar Cpas sambil tersenyum.
—–
Catatan Penulis: Pada saat artikel
ini ditulis, kami mendapatkan kabar jika ayahanda dari Cut Putri
Ayasofia menghembuskan nafas terakhir. Kami segenap Tim
Indonesia Kreatif mengucapkan belasungkawa yang mendalam dan berdoa
semoga almarhum mendapatkan pahala yang terbaik dari Allah SWT.
—–
PANYOET (Komunitas Komik Aceh)
Blog: www.panyoet-aceh.blogspot.com
Fans Page Facebook: Panyoet (Klub Komik Aceh)
Grup Facebook : Komunitas Komik Panyoet Aceh
Twitter: @Panyoet_Aceh
Sumber : http://indonesiakreatif.bekraf.go.id/iknews/panyoet-dan-komik-aceh/
Blog: www.panyoet-aceh.blogspot.com
Fans Page Facebook: Panyoet (Klub Komik Aceh)
Grup Facebook : Komunitas Komik Panyoet Aceh
Twitter: @Panyoet_Aceh
Sumber : http://indonesiakreatif.bekraf.go.id/iknews/panyoet-dan-komik-aceh/




Post a Comment
0 Comments